Wartawan Jepang yang Dibebaskan Ingatkan Pengawasan Lebih Ketat terhadap Myanmar

by -46 Views

Toru Kubota, wartawan Jepang yang ditahan di Myanmar yang dipimpin militer, hari Senin (28/11) mengatakan perlu lebih banyak lagi pengawasan yang dilakukan terhadap negara itu.

Kubota, 26, ditangkap pada 30 Juli sewaktu sedang meliput protes. Ia dibebaskan pada 17 November kemudian dideportasi, dalam program amnesti tahanan besar-besaran yang diumumkan pemerintah militer Myanmar.

Ia dijatuhi hukuman penjara 10 tahun karena dituduh melanggar UU imigrasi, penghasutan dan pelanggaran lainnya.

Berbicara di Klub Wartawan Asing di Tokyo, Kubota mengatakan sikap yang lebih keras harus diambil atas pelanggaran HAM di Myanmar.
Ia juga mengatakan perlu ada jaminan bahwa negara-negara lain tidak mendanai pemerintah Myanmar yang menindas.

Akademisi Australia Sean Turnell, mantan diplomat Inggris Vicky Bowman, dan warga negara Amerika Kyaw Htay Oo termasuk di antara mereka yang dibebaskan dalam amnesti yang juga membebaskan Kubota.

Tetapi Kubota menekankan bahwa masih banyak orang yang dipenjarakan.
Kubota mengatakan kepada wartawan bahwa ia adalah satu dari 16 ribu orang, mengacu pada jumlah orang yang ditahan, seperti yang diperkirakan organisasi pemantau HAM Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik.
Kubota mengatakan 20 orang ditempatkan di dalam apa yang ia sebut sel “neraka” yang sangat kecil sehingga mereka harus tidur saling bertumpukan.

Ia kemudian dipindahkan ke penjara Insein di Yangon, kota terbesar di Myanmar. Penjara ini terkenal sebagai tempat tahanan politik di bawah berbagai pemerintah militer.

Kubota mengatakan ia berharap akan terus membuat film yang akan menarik perhatian pada penderitaan rakyat Myanmar.
Film-film terdahulunya mencakup beberapa yang mengenai Myanmar, termasuk dokumenter mengenai pengungsi Rohingya di Jepang.
Militer Myanmar merebut kekuasaan pada Februari tahun lalu dengan menyingkirkan pemerintah terpilih pimpinan Aung San Suu Kyi, dan telah menindak keras pembangkang, menewaskan dan menahan ribuan orang.

Para wartawan ditahan dengan beragam tuduhan, seperti menimbulkan ketakutan, menyebarkan berita bohong dan menghasut.

Pemerintah Jepang mengupayakan pembebasan Kubota. Teman-teman dan pendukungnya mengumpulkan puluhan ribu tanda tangan dalam petisi online, yang menyerukan pembebasannya dengan segera.

PEN International, asosiasi penulis sedunia, dan organisasi HAM lainnya juga mendesakkan pembebasannya. [uh/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com

No More Posts Available.

No more pages to load.