Senegal Rayakan Hari Fonio, Sementara Kerawanan Pangan Membayangi

by -1992 Views

Sementara perubahan iklim telah menantang ketahanan pangan, beberapa negara Afrika yang telah bergantung pada biji-bijian impor, seperti Senegal, kini mencari biji-bijian asli seperti fonio yang tumbuh subur di tanah yang lebih kering. Senegal merayakan peringatan tahunan Hari Fonio untuk mendorong ditingkatkannya produksi biji-bijian penuh gizi itu.

Kawasan Kedougou di Senegal merayakan peringatan tahunan Hari Fonio. Fonio adalah sejenis biji-bijian asli Afrika Barat yang penuh zat-zat gizi seperti protein dan asam amino. Kawasan yang berbatasan dengan Guinea dan Mali ini telah lama dikenal sebagai pusat penghasil fonio di Senegal.

Aissata Aya Ndiaye dari Dewan Ekonomi, Sosial dan Lingkungan Hidup Senegal, mengatakan,“Tujuan peringatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran mengenai manfaat fonio dan untuk mendorong rakyat Senegal agar memasukkan fonio ke menu makanan mereka.”

Fonio bebas gluten, kaya zat besi, dan tumbuh dengan mudah tanpa pestisida atau pupuk kimia. Yang paling penting adalah, biji-bijian ini tahan kekeringan dan berkembang baik di tanah yang tidak subur.

Aissata menambahkan,“Fonio tidak terpengaruh oleh variasi iklim. Kami tidak pernah takut akan kemarau atau banjir – kami dapat selalu mengandalkan fonio. Kami selalu memiliki hasil panen yang baik.”

Beragam hidangan dari fonio disajikan pada peringatan tahunan “Hari Fonio” di Kedougou, Senegal, 15 November 2022. (Annika Hammerschlag/VOA)

Kerawanan pangan membayangi sebagian besar kawasan Afrika Barat, di mana perubahan iklim dituding sebagai penyebab cuaca ekstrem yang mengganggu produksi bahan makanan. Kebutuhan akan tanaman pangan lokal yang tangguh seperti fonio sekarang ini sangat tinggi.

Pandemi COVID dan perang Rusia di Ukraina memperlihatkan betapa kawasan di Afrika itu bergantung pada bahan impor seperti beras dan gandum.

Khady Camara, pendiri Vacances Vertes, mengemukakan,“Sekaranglah saatnya untuk mulai memikirkan cara meningkatkan cadangan pangan – untuk Afrika dan khususnya untuk Senegal. Karena jika tidak, dalam satu atau dua dekade, saya bisa pastikan bahwa bencana kelaparan akan menghancurkan seluruh Afrika.”

Produksi fonio terhambat oleh proses pengupasan yang melelahkan. Pengupasan ini biasanya dilakukan dengan tangan. Mesin pengupas yang disumbangkan oleh US African Development Foundation (Yayasan Pembangunan Afrika AS) telah banyak memberi manfaat bagi kawasan Kedougou di Senegal.

Keba Barry, manajer pengolah fonio di GIE Koba Club, berdiri di atas mesin pengolah fonio di Kedougou, Senegal, 15 November 2022. (Annika Hammerschlag/VOA)

Keba Barry, manajer pengolah fonio di GIE Koba Club, berdiri di atas mesin pengolah fonio di Kedougou, Senegal, 15 November 2022. (Annika Hammerschlag/VOA)

Keba Barry, manajer pemrosesan fonio di GIE Koba Club, mengatakan, “Dengan mesin, kami dapat memproses 150 kilogram per jam sementara secara manual, kami bahkan tidak mampu memproses 10 kilogram per jam.”

Kawasan lain di Senegal tidak seberuntung Kedougou. Senegal memproduksi sekitar 5.000 ton fonio pada tahun 2019, sementara negara tetangga, Guinea, memproduksi lebih dari setengah juta ton.

Para penggemar fonio di Senegal berharap para pemimpin mereka memprioritaskan produksi biji-bijian untuk ketahanan pangan sehingga negara itu dapat memproduksinya semaksimal mungkin. [uh/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com

No More Posts Available.

No more pages to load.