Pesawat Sriwijaya Air Ubah Arah Sebelum Jatuh di Perairan Kepulauan Seribu

by -78 Views

Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 diketahui sempat mengubah arah sebelum jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021 lalu. Pesawat yang membawa 62 penumpang itu berbelok dari arah kanan, datar dan kemudian ke kiri; diduga karena perbedaan tenaga mesin kanan dan kiri. Hal ini disampaikan Kepala Sub Komite Nasional Keselamatan Transportasi KNKT Moda Penerbangan Nurcahyo Utomo dalam rapat dengar pendapat bersama di DPR, Rabu (3/11).

Rapat dengar pendapat yang juga diikuti oleh Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto dan Dirut PT Sriwijaya Air Raimond Tampubolon itu membahas tentang kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta menuju Pontianak yang jatuh di sekitar perairan Kepulauan Seribu. Tidak ada penumpang yang selamat dalam musibah itu.

Nurcahyo Utomo, yang sebelumnya berpengalaman sebagai pilot, mengatakan tim investigasi KNKT menemukan adanya gangguan terhadap sistem mekanikal pesawat Sriwijaya Air dengan tipe Boeing 737-500 yang memiliki kode registrasi PK-CLC tersebut.

“Dari flight data recorder (FDC) dan cockpit voice recorder (CVR) yang sudah kami unduh data-datanya, saat pesawat climbing, ada perubahan yang terjadi pada mode autopilot, yang sebelumnya menggunakan flight management computer berpindah ke mode control panel,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nurcahyo menjelaskan bahwa dalam operasi normal, auto throttle berfungsi untuk menggerakan kedua thrust lever mundur, yang berguna untuk mengurangi tenaga mesin. Namun pada saat kejadian tersebut, auto throttle tidak menggerakkan thrust lever sebelah kanan, hanya yang sebelah kiri. Perbedaan tenaga antara sebelah kanan dan kiri atau disebut asimetri, membuat pesawat Sriwijaya Air SJ182 kekurangan tenaga mesin ketika menjelang ketinggian 11 ribu kaki. Asimetri sendiri menyebabkan perbedaan tenaga mesin yang akhirnya menghasilkan gaya yang membelokkan pesawat ke arah kiri.

KNKT telah melakukan pemeriksaan tujuh komponen yang ada, dan hasilnya terdapat gangguan mekanikal bukan gangguan pada sistem komputer.

Cockpit Voice Recorder (CVR) ditemukan pada 30 Maret 2021 lalu di sekitar lokasi pesawat Sriwijaya SJ182 dengan rute Jakarta – Pontianak yang jatuh pada 9 Januari 2021. (VOA/Indra Yoga)

“Ada tujuh komponen yang kami periksa. Sebagian di Amerika dan sebagian lainnya di Inggris. Dan komponen terkait auto-throttle. Sehingga kami meyakini bahwa gangguan terdapat pada thrust lever sebelah kanan, dan merupakan gangguan sistem mekanikal bukan sistem komputer,” tambah Nurcahyo.

Selain itu, terdapat keterlambatan cruise thrust split monitor (CSTM) yang menonaktifkan auto throttle ketika asimetri berlangsung.

“Kurangnya monitoring pada instrumen dan posisi kemudi yang miring telah menimbulkan asumsi bahwa pesawat miring sehingga tindakan pemulihan tidak sesuai. Pemulihan tidak bisa dilaksanakan secara efektif dan tepat waktu,” paparnya.

KNKT: Pilot Tidak Menyadari Adanya Perubahan di Kokpit

Pada saat kejadian asimetri berlangsung, terdapat banyak perubahan yang terjadi dalam instrumen di kokpit, namun tidak disadari oleh pilot. “Perubahan sikap pesawat yang semula belok ke kanan jadi datar dan kemudian belok ke kiri, itu tergambar di electronic attitude atau EADi. Perubahan tersebut tidak disadari oleh pilot,” ungkap Nurcahyo.

Pemaparan ini didasarkan dari investigasi terhadap temuan CVR pesawat. Pilot diduga tidak mengenakan headset, sehingga suara bising pada 400 hertz menutup suara pembicaraan sang pilot. Namun suara kopilot beserta menara pengatur lalu lintas udara yang melakukan percakapan masih dapat terdengar.

Nurcahyo dan timnya memperkirakan pilot mengandalkan sistem otomatisasi yang dimiliki oleh pesawat, sehingga diduga konsentrasi monitoring terhadap instrumen pesawat berkurang.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi (tengah) menyampaikan hasil temuan barang penumpang dan serpihan pesawat Sriwijaya SJ182 kepada wartawan di Pelabuhan Tanjung Priok tahun 2021 lalu. (VOA/Indra Yoga)

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi (tengah) menyampaikan hasil temuan barang penumpang dan serpihan pesawat Sriwijaya SJ182 kepada wartawan di Pelabuhan Tanjung Priok tahun 2021 lalu. (VOA/Indra Yoga)

“Jika pesawat sudah diatur ke arah tertentu, ketinggian tertentu, maka auto-pilot menjalan apa yang sudah disetel, serta auto-throttle yang juga mengikuti sesuai permintaan autopilot. Sehingga pada kondisi ini berdampak pada kurangnya monitoring terhadap instrumen dan kondisi yang sedang terjadi,” jelas Nurcahyo di hadapan Komisi V DPR RI.

Dalam rapat selama dua jam itu, KNKT menyimpulkan sedikitnya ada enam penyebab kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182, yaitu pertama, tahapan perbaikan sistem auto-throttle yang belum mencapai bagian mekanikal. Kedua, thrust lever kanan yang tidak mundur berdasarkan permintaan autopilot, sementara yang ketiga, thrust lever kiri terus bergerak mundur sehingga menimbulkan asimetri.

Penyebab keempat adalah keterlambatan CTSM dalam memutus auto-throttle pada saat pesawat mengalami asimetri yang semakin besar disebabkan oleh flight spoiler yang terus memberikan nilai yang lebih rendah sehingga menyebabkan kecelakaan tidak dapat terjadi.

Kelima, adanya complacency terhadap sistem otomatisasi sehingga kurangnya monitoring terhadap instrumen pesawat, sehingga tidak menyadari adanya asimetri dan penyimpangan pesawat. Dan yang keenam, karena belum adanya aturan panduan mengenai upset prevention and recovery training (UPRT) yang memiliki pengaruh terhadap proses pelatihan pilot oleh maskapai. Menurut Nurcahyo, belum adanya panduan tersebut membuat maskapai belum dapat menjamin kemampuan dan pengetahuan pilot dalam mencegah serta memulihkan pesawat dalam kondisi upset.

Kemenhub Siap Tindak Lanjut Penyelidikan KNKT, DPR Masih Akan Kaji

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto mengatakan siap melaksanakan dua tindak lanjut dari hasil penyelidikan KNKT itu, yaitu “melakukan tindakan keselamatan (safety action) terhadap rekomendasi yang sudah dilaksanakan, dan memberikan rekomendasi keselamatan (safety recommendation) untuk yang belum dilaksanakan.”

Penemuan barang pribadi penumpang dan serpihan pesawat Sriwijaya SJ182 yang jatuh di Laut Jawa pada 9 Januari 2021. Sebanyak 62 orang, terdiri dari penumpang dan kru pesawat meninggal dunia. (VOA/Indra Yoga)

Penemuan barang pribadi penumpang dan serpihan pesawat Sriwijaya SJ182 yang jatuh di Laut Jawa pada 9 Januari 2021. Sebanyak 62 orang, terdiri dari penumpang dan kru pesawat meninggal dunia. (VOA/Indra Yoga)

Ditambahkan bahwa para pihak, yaitu “Ditjen Perhubungan Udara, Boeing, Garuda Maintenance GMF, Sriwijaya Air telah melakukan tindakan yang sesuai untuk terus meningkatkan keselamatan penumpang.”

DPR masih akan mengkaji temuan itu dan belum memberikan masukan secara langsung. Namun DPR meminta Sriwijaya Air untuk menyelesaikan pemberian uang santunan kepada keluarga seluruh korban, yaitu 50 penumpang dan 12 awak pesawat.

Di bagian penutup dengar pendapat itu, KNKT mengatakan proses penyelidikan kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang dipimpinnya sudah sesuai dengan ketentuan International Civil Aviation Organization ICAO dengan melibatkan pemerintah Amerika selaku negara di mana pesawat Boeing itu dibuat, juga Transport Safety Investigation Bureau TSIB Singapura, Air Accident Investigation Branch Inggris, hingga pabrik mesin General Electric. [iy/em]

Sumber: www.voaindonesia.com

No More Posts Available.

No more pages to load.