Ilmuwan Selandia Baru Berupaya Kurangi Sendawa Sapi dan Domba

by -23 Views

Pada awalnya, mencegah sapi bersendawa terdengar seperti lelucon. Tetapi ini sungguh-sungguh masalah serius bagi para ilmuwan Selandia Baru. Tujuannya adalah untuk membantu mengurangi dampak perubahan iklim.
Aidan Bichan, peternak sapi perah dari Kaiwaiwai Dairies mengatakan, “Di tingkat peternak, kami harus mengambil peran untuk membantu menyelamatkan planet.”

Para ilmuwan memang sedang berupaya mencari cara untuk mencegah sapi dan hewan-hewan ternak lainnya melepaskan begitu banyak metana, gas yang tidak bertahan lama di atmosfer seperti karbon dioksida, tetapi berdampak 25 kali lebih kuat terkait pemanasan global.

Peternak sapi perah Aidan Bichan di Kaiwaiwai Dairies, Featherston, Selandia Baru. 2 November 2022. (AP/Nick Perry)

Karena sapi tidak dapat segera mencerna rumput yang mereka makan, rumput itu difermentasi lebih dulu di dalam banyak ruang di perut. Ini adalah proses yang melepaskan sejumlah besar gas.

Di antara beberapa solusi yang paling menjanjikan adalah pemuliaan selektif, pakan yang dimodifikasi secara genetik, penghambat metana, dan vaksin.

Di Selandia Baru, penelitian itu menjadi kebutuhan mendesak. Hampir setengah dari emisi gas rumah kaca di sana berasal dari peternakan, sementara di AS jumlahnya kurang dari 10 persen. Emisi dari 26 juta domba dan 10 juta sapi melampaui emisi 5 juta penduduk Selandia Baru.

Sebagai bagian dari upaya menjadi netral karbon, pemerintah Selandia Baru berencana mengurangi emisi metana dari hewan ternak hingga 47% pada tahun 2050, terutama dengan memungut pajak dari peternak bagi sendawa hewan, langkah pertama semacam itu di dunia. Sebagian besar penelitian berlangsung di kampus Palmerston North.

Di salah satu rumah kaca di kampus, para ilmuwan mengembangkan rumput rye (gandum hitam) dan semanggi putih yang banyak dimakan hewan. Para ilmuwan telah menemukan cara meningkatkan tannin, yang membantu menghambat produksi metana, dengan semanggi.

Christine Voisey, ilmuwan senior di AgResearch, memeriksa sampel daun di laboratorium di Palmerston North, Selandia Baru, 3 November 2022. (AP/Nick Perry)

Christine Voisey, ilmuwan senior di AgResearch, memeriksa sampel daun di laboratorium di Palmerston North, Selandia Baru, 3 November 2022. (AP/Nick Perry)

Linda Johnson, manajer kelompok sains di AgResearch, perusahaan negara yang mempekerjakan sekitar 900 orang, mengatakan, “Mereka benar-benar mengidentifikasi, melalui penelitian mereka, suatu knop utama yang mengaktifkan tannin terkondensasi di daun.”

Analisis laboratorium mengindikasikan bahwa semanggi yang dimodifikasi mengurangi produksi metana 15 hingga 19 persen, kata Johnson. Tetapi program pakan ini masih perlu waktu beberapa tahun lagi sebelum siap digunakan.

Para ilmuwan telah menuntaskan tes kontrol di AS dan sedang merencanakan uji coba lapangan yang lebih besar di Australia, tetapi Selandia Baru memiliki peraturan ketat yang melarang hampir semua tanaman palawija yang dimodifikasi secara genetis. Ini adalah rintangan regulasi yang harus diatasi.

Peter Janssen, ilmuwan utama di AgResearch, di meja kerjanya di Palmerston North, Selandia Baru, 3 November 2022.(AP/Nick Perry)

Peter Janssen, ilmuwan utama di AgResearch, di meja kerjanya di Palmerston North, Selandia Baru, 3 November 2022.(AP/Nick Perry)

Peter Janssen, ilmuwan kepala di AgResearch, telah bekerja untuk membuat vaksin selama 15 tahun terakhir, dan telah berfokus secara intensif dalam pengembangannya selama lima tahun ini. Ia mengatakan vaksin itu berpotensi mengurangi metana yang dilepaskan oleh sapi sedikitnya 30 persen. Ia mengemukakan, “Saya yakin ini akan berhasil, karena itulah motivasi untuk melakukannya. Jika saya pikir ini tidak akan berhasil, saya tidak akan berada di sini untuk menelitinya. Saya akan mencari yang lain yang dapat berhasil.”

Vaksin dapat menstimulasi sistem kekebalan hewan untuk menghasilkan antibodi yang kemudian meredam produksi mikroba penghasil metana. Salah satu keuntungan besarnya adalah vaksin ini mungkin hanya perlu diberikan satu kali saja seumur hidup hewan tersebut.

Teknologi lain, seperti pemuliaan selektif, yang dapat mengurangi keluaran metana hingga 15 persen, akan diluncurkan ke peternakan sedini tahun depan, kata Janssen. Program serupa bagi sapi mungkin tidak terlalu jauh tertinggal. [uh/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com

No More Posts Available.

No more pages to load.