Hadapi Tren Peningkatan Kasus COVID-19, Kementerian Kesehatan Dorong Percepatan Vaksinasi

by -776 Views

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pengelolaan Imunisasi Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine menyatakan perlunya upaya untuk terus menyosialisasikan pentingnya vaksinasi lengkap COVID-19 kepada masyarakat.

Satgas Penangangan COVID-19 menyebutkan pada pekan hingga 3 November 2022, terjadi tren peningkatan kasus konfirmasi harian nasional di Indonesia sebesar 54,05 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Hal ini juga diikuti dengan peningkatan kasus aktif sebesar 48,8 persen, kematian 51,41 persen, dan rawat inap di rumah sakit sebesar 27,51 persen.

Tren kenaikan kasus ini, katanya, disinyalir terkait dengan ditemukannya varian XBB di Indonesia.

“Jadi memang masih dibutuhkan sosialisasi yang terus menerus, mengingatkan lagi ke masyarakat akan pentingnya vaksinasi COVID-19 ini. Apalagi saat ini ketika mulai agak naik kita punya kasus, ini kembali lagi waktunya semua pihak untuk kembali mengingatkan masyarakat,” kata Prima Yesephine dalam talkshow bertema Pemerataan Vaksinasi, Kunci Menuju Endemi, Senin (7/11).

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pengelolaan Imunisasi Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine dalam Talkshow Pemerataan Vaksinasi, Kunci Menuju Endemi, Senin (7 November 2022) (Tangkapan layar)

Prima Yesephine munculnya anggapan di sebagian kalangan masyarakat bahwa pandemi sudah berakhir, sehingga mereka merasa tidak perlu melengkapi vaksinasi primer COVID-19 dan dosis ketiga atau booster.

“Ini mengakibatkan isu di masyarakat mereka merasa pandemi sudah berakhir, sehingga sudah tidak perlu lagi untuk melengkapi vaksinasi COVID-nya, baik itu untuk melengkapi yang primernya karena tadi yang kita harapkan itu bisa mencapai 70 persen dari total populasi,” ungkap Prima.

Rencana Kesiapan, Kesiagaan, dan Respons Strategis tahun 2022 yang dirilis WHO menetapkan sejumlah penyesuaian strategis utama yang jika diimplementasi dengan cepat dan konsisten pada tingkat nasional, kawasan, dan global, akan membantu dunia mengakhiri fase akut pandemi, salah satunya adalah vaksinasi pada 70 persen populasi pada pertengahan 2022 sesuai demografi, dengan berfokus pada vaksinasi lengkap kelompok paling rentan secara klinis.

Merujuk covid19.go.id, sampai dengan 6 November 2022 capaian vaksinasi dosis pertama sebanyak 205.190.090 atau 87,43 persen dari total sasaran vaksinasi 234.666.020. Vaksinasi dosis ke-dua sebanyak 171.989.257 atau 73,29 persen. Vaksinasi dosis ke-tiga atau booster baru mencapai 65.379.116 atau 27,86 persen.

Masyarakat Tidak Perlu Khawatir Efek Samping Vaksinasi

Ketua Umum Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia, Profesor Iris Rengganis mengimbau warga tidak perlu khawatir dengan efek samping ringan yang ditimbulkan pascavaksinasi seperti pegal-pegal, nyeri di tempat suntikan, nyeri otot dan demam.

Ketua Umum Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia, Profesor Iris Rengganis dalam Talkshow Pemerataan Vaksinasi, Kunci Menuju Endemi, Senin (7 November 2022) (Foto : Tangkapan Layar)

Ketua Umum Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia, Profesor Iris Rengganis dalam Talkshow Pemerataan Vaksinasi, Kunci Menuju Endemi, Senin (7 November 2022) (Foto : Tangkapan Layar)

“Itu merupakan suatu reaksi normal dari pembentukan antibodi atas respons daripada vaksin, karena sesuatu yang masuk ke dalam tubuh kita, termasuk vaksin, itu akan terjadi suatu reaksi inflamasi berarti ada reaksi tubuh tapi itu akan bersifat sementara dan biasanya akan menghilang dalam beberapa saat,”jelas Iris Rengganis dalam kegiatan yang sama. Iris Regganis menegaskan vaksinasi penting untuk mencapai herd immunity (kekebalan kelompok).

Stok Vaksin Tersedia

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pengelolaan Imunisasi Ditjen P2P Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine memastikan ketersediaan vaksin COVID-19 di Indonesia mencukupi setelah sempat terjadi penipisan stok di sejumlah daerah.

Sebelumnya berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada 2 November 2022 stok vaksin di beberapa kabupaten kota mengalami penipisan.Sebelas kabupaten/kota dilaporkan hanya memiliki stok vaksin untuk tujuh hingga 10 hari, 10 kabupaten/kota untuk 10 hingga 14 hari, dan 51 kabupaten/kota kurang dari tujuh hari.

“Saat ini kami sampaikan bahwa vaksin COVID kita sudah ada. Kami punya stok yang cukup di pusat juga disamping yang sudah ada di daerah. Mengenai jumlahnya kita punya yang sudah beredar di daerah itu saat ini sekitar dua jutaan sudah kita edarkan dan kita punya juga di pusat stoknya 2,4 juta lagi masih ada, ” jelas Prima.

Pendistribusian vaksin ke daerah di sesuaikan dengan permintaan yang diterima oleh Kementerian Kesehatan. Artinya, daerah sudah mengukur kemampuan menyerap dan mengoptimalkan pemakaian vaksin, sehingga tidak ada lagi vaksin yang terbuang sia-sia karena kedaluwarsa. [yl/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com

No More Posts Available.

No more pages to load.